Mengatasi rasa bersalah dan penyesalan dalam diri. Seseorang pasti pernah merasa bersalah atau menyesali apa yang pernah terjadi di masa lalu. Biasanya penyesalan atau rasa bersalah datang jika yang terjadi saat ini seharusnya bisa lebih baik jika dulu kita mengambil keputusan atau tindakan yang tepat. Apa yang harus kita lakukan jika kita berada dalam situasi merasa bersalah atau menyesal dengan apa yang sudah terjadi? Kita tidak mungkin memutar waktu dan mengulang kejadian tersebut bukan? Lalu apakah dengan meratapi penyesalan dan menghukum diri sendiri tas apa yang sudah terjadi merupakan sikap yang benar? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana sebaiknya mengatasi rasa bersalah dan penyesalan dalam diri?

Kita memang tidak bisa memutar waktu dan mengulang kejadian yang ingin kita perbaiki. Jadi sebaiknya kita ikhlaskan yang sudah terjadi saat itu. Keputusan yang saat itu kita ambil merupakan keputusan terbaik yang sudah kita lakukan di saat itu dengan sumber daya yang kita miliki saat itu. Jadi jika jika hasilnya kurang sesuai, yang seharusnya kita perbaiki diri kita dan meningkatkan sumber daya dalam diri kita. Dan saat kita harus mengambil keputusan lagi, kita sudah menjadi seseorang dengan sumber daya yang lebih baik sehingga otomatis keputusan yang kita ambil pun juga akan lebih baik.

“Ngomong sih gampang, tapi kan tidak semua hal yang disesali seseorang bisa dengan mudah diikhlaskan?”

Berikut 2 Cara Ampuh Mengatasi Rasa Bersalah dan Penyesalan Dalam Diri

  1. Menemukan maksud baik dari suatu kejadian.
    Cobalah untuk melihat suatu kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Karena pada dasarnya setiap kejadian mempunyai maksud baik. Temukanlah maksud baik dari kejadian tersebut.Contoh: “Seorang penari divonis tidak bisa menari lagi karena mengalami cedera kaki yang cukup parah. Penari tersebut mengalami kecelakaan sepeda motor. Sesaat sebelum kecelakaan terjadi, penari tersebut berada dalam kondisi mengejar waktu untuk mengikuti seleksi calon penari yang akan menjadi duta seni tari di ke luar negeri, dia terlambat bangun pagi itu. Ibunya sudah memperingatkan dia untuk hati-hati, “kalau sudah rejeki kamu pasti diterima”, begitu ucap ibunya. Akan tetapi karena hati sang penari dipenuhi dengan rasa khawatir takut terlambat, dia mengabaikan ucapan ibunya. Karena terburu-buru dan kurang hati-hati, dalam perjalanan dia mengalami kecelakaan. Penari tersebut sangat terpukul, karena peristiwa tersebut dia harus mengubur impiannya untuk menjadi penari internasional.”
    Beberapa tahun kemudian, dia bertemu dengan teman satu sanggarnya dulu yang sekarang sudah menjadi penari internasional. Temannya itu sering berkunjung ke berbagai negara untuk menari mewakili Indonesia. Temannya itu sangat bersemangat menceritakan pengalamannya. Temannya itu bertanya, “Lalu sekarang apa kegiatanmu setelah berhenti menari?”
    “Aku memutuskan untuk menikah beberapa bulan setelah keluar dari rumah sakit, pacarku melamarku saat itu, dan aku menerimanya. Anakku sudah satu sekarang, sudah berusia 1 tahun. Ibuku sangat bahagia melihat kondisiku saat ini, karena sudah ada suami yang sangat menyayangiku dan aku juga sudah mempunyai anak yang pintar dan lucu.” Temannya itu terdiam sejenak, lalu tersenyum “Aku iri denganmu. Aku sangat ingin menikah, tapi sampai saat ini pacarku belum juga melamarku. Kami berdua sama-sama sibuk. Dia bekerja di kedutaan luar negeri, dan aku sibuk dengan jadwal menariku. Ibuku terus mendesakku untuk segera menikah, beliau sekarang sering sakit-sakitan. Aku takut ibuku tidak bisa menyaksikan aku menikah dan punya anak. Kamu sangat beruntung.”

    Lalu dimanakah maksud baiknya?
    Penari yang gagal menjadi penari tersebut bukan berarti dia juga gagal dalam kehidupannya. Dia memutuskan untuk menikah dan mempunyai anak. Sehingga saat ini dia bisa membahagiakan ibunya di masa tuaya. Apa jadinya jika dia jadi penari internasional seperti impiannya? Bisa jadi dia seperti temannya yang ingin menikah tapi belum bisa karena pekerjaannya menguras banyak waktu. Maksud baiknya adalah peristiwa kecelakaan tersebut memberi kesempatan dia untuk menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan ibunya. Bahkan dia diberi kesempatan mempunyai seorang suami yang sangat menyayanginya dan dianugerahi seorang anak.

  2. Memaknai kembali kejadian dengan lebih positif
    Jika kita sudah menemukan maksud baiknya, berikan pemaknaan kembali pada kejadian itu, “Oh ternyata ini toh maksud baiknya? Baik aku akan mengikhlaskan yang sudah terjadi”.Dan akhirnya dia bisa memaknai kembali peristiwa kecelakaan tersebut. “Oh iya, waktu itu aku memang terlambat bangun pagi karena malam harinya aku menyiapkan materi ujian hingga larut malam. Dan aku juga mengabaikan pesan ibu untuk berhati-hati”. Menjadi seorang penari memang bukan jalanku. Kalau bukan karena kecelakaan itu, suamiku mungkin belum tergerak untuk melamarku, saat melamarku dia bilang seperti ini, ” peristiwa ini menyadarkanku bahwa kamu sangat penting dalam hidupku, aku ingin bisa selalu menjagamu”. Aku bersyukur sekarang aku sudah berkeluarga, memiliki suami yang sangat menyayangiku dan sudah dianugerahi seorang anak. Aku juga bahagia saat melihat senyum bahagia ibuku ketika bermain dengan anakku.

 

Jika kita sudah bisa memandang dari sudut pandang lain dan meberikan makna baru yang lebih positif, hati akan menjadi lebih damai dan tentram. Sehingga ke depannya kita bisa melangkah dengan lebih ringan, karena tidak ada lagi beban rasa bersalah dan menyesal yang menghambat diri kita. Itu artinya hari-hari yang kita jalani akan lebih menyenangkan. Kegiatan apapun bisa kita lakukan dengan lebih maksimal dan hasilnya pun juga akan memuaskan karena kita sudah bisa mengatasi rasa bersalah dan penyesalan dalam diri.