Setiap individu yang berfikir pasti pernah merasakah punya masalah. Masalah yang dirasakan pun memiliki frekuensi dan taraf yang berbeda-beda porsinya. Hal itu tergantung dari berbagai penerimaan, pengetahuan dan pengalaman individu masing-masingĀ  tersebut terhadap masalah yang sedang dihadapai.

Uniknya, beberapa individu yang mengaku bermasalah dan tidak memiliki jalan keluar memutuskan untuk mengakhiri hidupnyua. Karna mereka mempercayai bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong. Atau sekedar menggantung harapan akan beban yang membelitnya. Beberapa kasus juga memperlihatkan kebuntuan berfikir individu. Jadi bunuh diri ini sebenarnya adalah sebuah pilihan. Pilihan buruk yang sengaja disematkan di option terakhir seorang individu untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal yang terjadi adalah ia menolak menghadapi kenyataan dan memilih menghapus diri dari perannya masalah tersebut sekaligus selamanya.

Lebih dari 90% penyebab bunuh diri adalah depresi. Depresi ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, pengalaman, dan penerimaan individu terhadapa suatu masalah di hidupnya. Ada dorongan lain yang sering diabaikan selain ketiga faktpr yang tidak dimiliki tersebut, yaitu peluapan beban masalah yang dihadapai seorang individu tersebut. karna seseorang memilih bunuh diri karna tidak ada lagi yang bisa dia harapkan untuk menolongnya. Mendengarkan bebannya sebagai bentuk peluapan emosi juga merupakan sebuah bentuk menolong yang dapat mengurangi beban yang menghimpitnya. Mengurangi resiko depresi.

Masalahnya, beberapa pandangan mengungkapkan bahwa apabila kita curhat kepada orang lain tentang masalah kita maka kita menunjukkan kelemahan kita. Berarti kita telah membuka aib kita. Dikira kita mengeluh saja bisanya. Padahal itu merupakan persepsi masing-masing orang yang memiliki penerimaan diri, pengalaman, dan penetahuan tentang maslaah tersebut yang tentu berbebda. Jangan disamakan. Jadi jika masih ada yang menagtakan bahwa mengadu dan mengeluh aib kita cukup sama Allah kan. Tentu benar. Akan tetapi Allajh tidak akan memberikan solusi langsung melalui TitahNya bukan. Kita tidak dapat merasakan pertolongan Allah langsung, merasakan pelukanNya langsung, atau mendengar kan solusi masalah kita dari Nya langsung. Tentu ada perantara. Perantara ini yang bisa jadi adalah, teman, orang tua. Saudara, atau bahkan psikolog dan konsultan.